Upaya Pemerintah Perancis dalam Mengatasi Ancaman dari Kelompok Pejuang Aljazaer Dalam Film “THE BATTLE OF ALGIERS”

Film the Battle of Algiers adalah sebuah film dengan tema peperangan yang dirilis pada 8 September 1966 dan disutradarai oleh Gillo Pontecorvo. Film yang merupakan produksi Italia-Algeria ini mengkisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat pertempuran Algeria. Plot utamanya adalah konflik dan perang gerilya National Liberation Front (FLN) melawan penjajahan Prancis di Algeria.

Sumber: thebigpicturemagazine.com

Cerita ini digulirkan dari kisah perekrutan Ali La Pointe, seorang kriminal, yang direkrut oleh pihak FLN. Ali direkrut ke dalam organisasi klandestin di Casbah. Dan selanjutnya pun bergulir agenda-agenda teror lainnya yang dilancarkan oleh FLN. Polisi Perancis dilucuti senjata dan bahkan bunuhi. Selain membutuhkan senjata, FLN sengaja menebar teror untuk menimbulkan ketakutan dari pihak Perancis.

Berbagai tindakan teror dari pihak pemberontak Aljazair pun segera direspon, baik itu dari pihak kepolisian maupun oleh pihak militer. Berdasarkan alur film, setidaknya terdapat serangkaian upaya yang dilakukan oleh pihak kepolisian dalam meredam pemberontakan dan teror dari pihak FLN, di antaranya; pihak kepolisian setempat menempatkan seluruh masyarakat Algerian di         bawah kendali polisi secara ketat; penjagaan di seluruh kantor polisi; melakukan blokade jalan; menutup akses dengan “kawat berduri” terhadap perkampungan Arab; pembentukan tim pemeriksaan yang dibentuk di semua titik akses, dimana nantinya seluruh warga diharuskan untuk menunjukkan KTP dan bahkan pula dimungkinkan untuk dilakukan penggeledahan; serta, berbagai upaya propaganda yang berupa pesan-pesan melalui pemberitahuan yang isinya mengajak agar masyarakat Casbah menolak seluruh perintah yang dilancarkan oleh National Liberation National (FLN).

Sumber: www.theartsshelf.com

Selain dari pihak kepolisian, respon terhadap pemberontakan pun datang dari pihak militer. Bahkan dapat dikatakan respon pihak militer bersifat lebih “agresif” sebab mengarah ke arah tindakan penyerangan. Pihak TNI yang saat itu dipimpin oleh letnan kolonel Phillippe Mathieu menyusun dan melancarkan beberapa strategi dan taktik guna menghadapi ancaman. Dalam sebuah rapat bersama anggotanya, Mathieu menyatakan bahwa taktik mereka mengarah ke upaya “isolasi dan menghancurkan”. Mathieu menyebutnya sebagai taktik Tried and True. Tujuannya adalah untuk mencari seluruh otak dan dalang dari pemberontakan FLN serta membongkar piramida organisasi. Terutama guna mengetahui siapa “Executive Bureau” yang memimpin pemberontakan ini. Mathieu menyatakan bahwa dasar yang digunakan dalam taktik ini adalah intelijen sementara metodenya adalah berupa investigasi. Menurutnya metode ini merupakan satu-satunya cara resmi yang dibolehkan oleh aturan pihak kepolisian. Di lapangan, Mathieu beserta pihak militer yang dipimpinnya melancarkan sebuah operasi yang bernama Champagne Operation (operasi sampanye). Operasi bersenjata ini dilakukan untuk menduduki Casbah serta mencari tahu keberadaan seluruh anggota FLN. Dan tentu saja, guna membongkar piramida organisasi pemberontak ini.

Leave a Reply