Kebijakan Amerika Serikat di Benua Amerika Pasca Perang Dingin: Dinamika Pembentukan Free Trade Area for the Americas (FTAA)

Sumber Gambar : http://www.ftaaus.com.au/

Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara yang pro aktif dalam memperjuangkan gagasan perdagangan bebas di wilayah benua Amerika. Pada 1 Januari 1994, AS beserta Kanada dan Meksiko resmi menciptakan blok perdagangan trilateral di Amerika Utama yang bernama the North American Free Trade Agreement (NAFTA). Blok perdagangan ini berupaya untuk melakukan liberalisasi perbatasan perdagangan di antara tiga negara. Dan tidak lama setelah pembentukan NAFTA, pada Desember 1994 Amerika Serikat yang dipimpin oleh Presiden Bill Clinton mengadakan “First Summit of the Americas” di Miami Florida (Miami Summit). Beberapa agenda yang mencakup berbagai bidang pun dihasilkan dari pertemuan ini. Salah satunya adalah komitmen untuk membentuk Free Trade Area for the Americas (FTAA) pada 2005.

 Secara esensial, FTAA merupakan ekstensi dari NAFTA yang akan mencakup seluruh negara di Amerika, terkecuali Kuba. Tujuan pembentukannya pun memiliki esensi yang sama dengan NAFTA yakni untuk menghilangkan hambatan dalam perdagangan dan investasi. Dalam perjalanan pembentukannya, 34 negara dari seluruh regional Amerika pun sepakat untuk berkontribusi dalam menjalankan FTAA.

Dinamika Negosiasi dan Perjalanan FTAA

Setidaknya dua kali pertemuan lanjutan pembentukan FTAA telah terlaksana setelah penggagasannya pada Desember 1994. Pada April 1998, di Santiago, Chile dilaksanakan pertemuan yang menghasilkan kesepakatan terkait kelompok-kelompok kerja dari berbagai isu yang berbeda, di antaranya; akses pasar, pertanian, pengadaan pemerintah; investasi, kebijakan persaingan, intelektual hak milik, jasa, penyelesaian

sengketa dan subsidi, antidumping serta tugas pengimbangan. Dan pada pertemuan ketiga yang berlangsung di Quebec City pada April 1991, negara delegasi mulai menyusun naskah proposal lengkap yang seluruhnya berisi perjanjian perdagangan. Seluruh negara ini sepakat bahwa persiapan FTAA akan tuntas dan diimplementasikan paling lambat pada 2005. Namun dalam perjalanannya, pembentukan FTAA menemui beberapa kendala dan memunculkan berbagai macam protes perlawanan dari berbagai negara di benua Amerika.

Setidaknya ada dua isu yang menjadi akar perselisihan antara Amerika Serikat dan beberapa negara FTAA lainnya sehingga berunjung ketidaksiapan pembentukan FTAA. Pertama adalah terkait isu subsidi. Disaat Amerika Serikat berupaya untuk menghapuskan isu subsidi terhadap produk hasil pertanian dari FTAA, Brasil danArgentinya menolaknya. Amerika Serikat beranggapan bahwa isu ini lebih baik diselesaikan saja dalam lingkup WTO. Kedua adalah isu tentang hak kekayaan intelektual. Amerika Serikat merupakan negara yang berupaya untuk bisa memproteksi hak kekayaan intelektual. Namun hal tersebut berbenturan dengan kepentingan negara-negara Selatan yang cenderung menghindari hal itu. Bagi mereka, adanya upaya tersebut bisa menyebabkan kesejahtraan cenderung menurun akibat harga yang mahal atas akses hak kekayaan intelektual bagi produk-produk tertentu. Dalam implementasi perjanjiannya pun menemui tekanan dan tantangan. Hal ini nampak ketika FTAA dihadapkan dengan politik domestik yang berupaya untuk melakukan proteksi dagang. Dimana produser dan pekerja domestik berusaha menutup pasar dari kompetitor luar.

Respon Amerika Latin terhadap FTAA

Sumber Gambar : cuba-networkdefenseofhumanity.blogspot.com

Ketika Amerika Serikat menunjukkan sikapnya yang optimis akan adanya FTAA, maka negara-negara Amerika Latin sebaliknya, yakni cenderung bersikap skeptis. Bagi mereka, liberalisasi perdagangan yang diinisasi oleh negara-negara maju akan membuahkan problematika tersendiri. Sistem ekonomi yang ada di Amerika Latin masih cenderung marxis-strukturalis dengan perekonomian yang masih kurang stabil. Sehingga beberapa negara dari kawasan Selatan ini lebih memilih untuk melakukan 

proteksi atas produk dalam negerinya. Dan ketika berhadapan dengan arus perdagangan bebas dari negara maju maka memungkinkan terjadi disturbansi di antaranya keduanya. Seperti isu hak kekayaan intelektual serta kebijakan subsidi pertanian yang menjadi dua isu penghambat tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Amerika Latin dalam FTAA.

Perlawanan paling vokal dilontarkan oleh beberapa negara dari kawasan Amerika Latin, salah satu adalah Venezuela. Presiden Hugo Cavez menyatakan bahwa upaya terselubung Amerika Serikat dalam membentuk FTAA adalah untuk melakukan rencana aneksasi serta “alat” imperialisasi terhadap negara-negara Amerika Latin. Dan pada tahun 2004, Venezuala menjalin kerjasama regional bersama Cuba. Alternativa Bolivariana para las America atau Agreement for the Application of the Bolivarian Alternative of the Americas and the People’s Trade Agreements, yang disingkat ALBA. Dideklarasikan di Ibu Kota Kuba, Havana, 28 April 2005. Perjanjian ini ditujukan untuk pertukaran sumber minyak, medis dan pendidikan antara kedua negara sekaligus menjadi aliansi tandingan bagi Amerika Serikat dan produk FTAA-nya. Menurut kedua pemimpin negara tersebut, Cavez dan Fidel Castro, aliansi terbaik adalah aliansi yang tidak didasarkan pada kepentingan egois melainkan melalui kerjasama dan solidaritas. Mereka berupaya untuk bisa mengkonsolidasikan integrasi ekonomi regional berdasarkan visi bersama kesejahteraan sosial, bantuan ekonomi dan pembangunan bersama serta untuk memperkuat kerjasama melalui sikap saling menghormati. Atas upaya maksimalnya dalam menggalang kekuatan bersama dalam regional Amerika Latin, ALBA yang tadinya hanya berjumlah dua anggota, dengan cepat melakukan ekspansi dan telah berjumlah 11 anggota negara, di antaranya;Antigua and Barbuda, Bolivia, Cuba, Dominica, Ecuador, Grenada, Nicaragua, Saint Kitts and Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent and the Grenadines, and Venezuela. 

Leave a Reply