Dengan Hutan Mangrove, Kita Bangun “Benteng Pertahanan” di Pesisir!

OLEH: HUDA RABBAL ALAM

Get Lost in Stockholm

 

Sebulan penuh menjalankan aktivitas Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Tangerang pesisir telah membuka mata saya untuk melihat secara langsung bagaimana kehidupan laut dan wilayah pesisir pantai memiliki dampak yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap keberlangsungan kehidupan di darat.

Tentu saja, sumber daya alam hewani yang melimpah di dalam laut yang kemudian dikelola menjadi lauk pauk di atas piring kita, sampai detik ini masih dan akan terus menjadi alasan mengapa manusia tetap bisa terjaga kesehatan dan semangatnya dalam beraktivitas.

Tentu juga, aktivitas dan pekerjaan di laut pun telah menjadi sumber mata pencaharian utama hampir seluruh masyarakat yang hidup di sekitar daerah pantai. Mulai dari pekerjaan mencari ikan hingga pembukaan lahan tambak.

Dan ternyata pula, area pesisir pantai bisa dimanfaatkan untuk menjaga wilayah daratan dari berbagai bencana alam. Dengan kata lain, pesisir pantai menjadi wilayah yang tepat untuk dibangun “Benteng Pertahanan”. Poin terakhir ini sekiranya sangat perlu untuk garisbawahi.

Secara rutin berdiskusi dengan pak Haji Heru selaku pengelola tempat wisata Mangrove Pulau Cangkir (MAPUCA) yang terletak di Desa Kronjo telah memberikan saya banyak pengetahuan baru mengenai pentingnya pengelolaan hutan Mangrove di daerah pesisir pantai. Mulai dari manfaatnya untuk lingkungan sampai dengan nilai praktisnya guna mengatasi masalah kesehatan tubuh yang sebelumnya dikelola hasil buahnya dalam bentuk produk minuman atau makanan yang bervariasi.

 

-Bersama Pak H. Makdis Adhari, dikenal dengan "Pak Heru"-

Pak Heru menuturkan bahwa MAPUCA memiliki beraneka jenis tanaman Mangrove. Mulai dari yang masih masif penanamannya sampai beberapa jenis tergolong yang langka. Salah satu contohnya adalah Blugeria cylindrica.

“Seperti kita ketahui bahwa Mangrove menjadi tanaman panjang umur yang bisa menjadi penjaga daerah pesisir dari berbagai bencana alam, salah satunya abrasi”. Ungkap Pak Heru pada sela-sela diskusi di Sekretariat MAPUCA yang letaknya tepat di pinggir pantai Pulau Cangkir.

Dan tidak hanya abrasi, hal penting lain adalah Hutan Mangrove pun ternyata bisa menjadi penghalau ombak Tsunami. Sebagaimana dikutip dari salah satu tulisan berjudul Mangrove: Nature’s Defect Against Tsunami yang ditulis oleh tim Enviromental Justice Foundation.  “Mangroves prevent coastal erosion, and act as a barrier against typhoons, cyclones, hurricanes, and tsunamis, helping to minimize damage done to property and life2,4,5,6. Mangrove tree species that inhabit lower tidal zones can block or buffer wave action with their stems, which can measure 30m high and several metres in circumference4. The trees both shield the land from wind and trap sediment in their roots, maintaining a shallow slope on the seabed that absorbs the energy of tidal surges”.

Mangrove mencegah erosi pantai dan juga menjadi penghalang angin topan serta tsunami, membantu meminimalkan kerusakan yang terjadi pada harta benda (apabila tsunami terjadi). Spesies pohon bakau yang menghuni zona pasang surut yang lebih rendah dapat menghalangi atau menyangga aksi gelombang dengan batangnya.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa selain gempa bumi, Tsunami merupakan bencana paling mematikan. Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dan hilang pada 2018 akibat bencana alam mencapai 4.231 korban. Melonjak drastis dari 378 korban pada 2017. Dan penyebab utama dari peningkatan jumlah ini adalah bencana gempa bumi yang diikuti dengan tsunami dan likuifaksi di Palu dan daerah sekitarnya di Sulawesi Tengah.(CNN, 2018).

Nah, berikut ada sebuah video percobaan singkat yang mempertunjukkan bagaimana perpohonan Mangrove bisa melindungi daratan dari ombak. Video ini saya ambil dari akun youtube bernama “Syafiq”. 

Melihat risiko besar dari bencana tsunami ini, sudah seharusnya kita semua tanggap dengan bencana. Tidak ada satupun dari kita yang berharap ditimpa oleh bencana, namun upaya pencegahan serta peminimalisasian dampak dari bencana adalah keharusan untuk dilakukan dan dipersiapkan sedini mungkin. Membangun hutan mangrove adalah salah satu ide terbaiknya. 

Mengetahui pentingnya manfaat ini, Pak Heru dibantu dengan tim pengelola yang dibentuknya terus konsisten bertahun-tahun menumbuhkan dan merawat hutan Mangrove Pulau Cangkir. Sebagai “Benteng Pertahanan Pesisir” sekaligus tempat wisata masyarakat sekitar.

Agenda Bersih-Bersih di Area Mangrove Pulau Cangkir

Dan tidak hanya itu, sejak tahun 2018 seusai mengikuti pelatihan nasional pemanfaatan Mangrove untuk produk makanan dan minuman, tidak butuh lama untuk pak Heru menghasilkan berbagai jenis produk olahan industri rumahan dari buah Mangrove. Mulai dari sirup, kue bolu, dodol dan lain-lain. Produk-produk ini bahkan telah dipasarkan di berbagai tempat di Pulau Jawa. Sirup MAPUCA sendiri memiliki berbagai khasiat untuk menyembuhkan beberapa penyakit, semisal radang tenggorokan dan sariawan.

Aktivitas Pengolahan Buah Mangrove oleh Siswa/i PKL SMK Mauk

Baik banget kan ya alam ke kita? “Kita jaga alam, Alam jaga kita”. Kita sayang alam, alam sayang kita. Hubungan timbal balik yang semoga terus langgeng. Amin!

 

***

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tangguh Award 2019

#TangguhAward2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #KenaliBahayanyaKurangiResikonya #BudayaSadarBencana #SiapUntukSelamat

 

Referensi

  1. Hasil wawancara langsung dengan Pak H. Makdis Adhari di Sekretariat Mangrove Pulau Cangkir, Desa Kronjo
  2. Artikel berjudul Mangrove: Nature’s Defect Against Tsunami (yang ditulis oleh tim Enviromental Justice Foundation. Diakses pada 18 September 2019 pukul 11.14 WIB. 
  3. CNN, 2018. Hantaman Tsunami dan Ribuan Bencana Alam Sepanjang 2018. Diakses pada 18 September 2019 pukul 13.02 WIB

Leave a Reply